Assalamualaikum. So, Dwi, who was my roomate at that time told me about this Writing Short Story Competition that is organised by PPIA - ANU (Persatuan Pelajar Indonesia Australia). So, i gave it a try. Never tried writing Indonesian fiction before. Who would've thought that i actually get something out of it. (Second Prize) Alhamdulillah. Well, I enjoyed writing it. Its about Melbourne, Something that is close to heart. So if any of you out there who MISSES Melbourne , this is for you..Enjoy!! Reality Shows
Selesai revisi: 29/08/2005
Hobiku nonton wayang orang.
Hidup ini adalah sebuah reality show dan aku adalah penonton setianya. Lalu akupun tertawa, marah, menangis, dan mengkiritik bak seorang TV analyst pro bono. Ironisnya, terkadang aku lupa kalau sebenarnya yang sedang kutertawai, kumarahi, dan kutangisi itu adalah diriku sendiri yang juga bagian dari show tersebut, Latar belakangku sebagai seorang perantau dari tanah Jawa di Negeri Wombat ini —kata “Negeri Kangguru” sudah terlalu pasaran. Wombat lebih bundar dan lucu, apalagi kalau pakai baju tentara, biar jadi “Combat-Wombat”— menawarkan sebuah perspektif yang menarik. Karena sebenarnya orang Jawa itu bukanlah orang Sumatra dan tidak biasa merantau jauh dari keluarga dan comfort zone-nya. Aku telah terbiasa menjadi bagian suku mayoritas yang dimanjakan pehatian dan kekuasaan. Sekarang aku jadi minoritas yang tidak bisa banyak bicara. Hal ini lantas membuatku menjadi seorang yang pendiam. Padahal dirumah aku dikenal suka nyerocos. Namun, tidak mengapa, kisahku kali ini tidak begitu penting. Aku sendiri tidak terlalu tertarik dengannya. Di sini aku lebih suka menonton kisah-kisah orang di sekelilingku. Mungkin karena Melbourne adalah sebuah kota yang sangat hidup dan multikultural.
Aku tumbuh di sebuah kota kecil di Jawa Tengah dimana ‘penampakan’ seorang turis Bule berkulit pucat dan bermata biru adalah sebuah peristiwa besar yang banyak mengundang perhatian masyarakat. Jadi bisa dibayangkan betapa udiknya aku ini ketika pertama kali menapakkan kakiku di Melbourne. Sekarang aku dikelilingi mahluk-mahluk aneh yang belum pernah kutemui sebelumnya. Ada orang-orang Afrika berkulit gelap dan tinggi besar dengan gaya berjalan a-la Hip Hop yang banting kiri - banting kanan, ada Bule-bule ‘si muka-pucat’ berambut merah, cokelat, atau pirang dengan kulit yang merah terbakar di musim panas; dan banyak juga orang-orang serumpun Asia sepertiku yang serupa tapi tak sama. Kini sudah lima tahun aku menumpang di Melboure. Kota ini telah menjadi rumah keduaku. Sudut-sudut kota, taman-taman, kafe-kafe, dan gedung-gedung berarsitektur tua kini menyapaku dengan G’day mate! yang hangat. Aku juga sudah lebih mengenal spesies-spesies habitat Melbourne dan pandai mengkategorikan mereka dengan menggunakan istilah-istilah seperti “Blokes”, “Sheilas”, “Hobos”, “Wogs”, “Yuppies”, dan “Hippies”. Dan sampai sekarang aku masih terpesona memeperhatikan beraneka ragam warna-warna mata manusia; biru, hijau, atau cokelat-keemasan. Sedangkan orang Indonesia cuma punya mata cokelat standar yang membosankan ataupun mungkin ada sedikit variasi keputih-putihan karena katarak.
Banyak teman-temanku disini yang merasa sungkan bertatap mata denganku karena kebiasaanku yang selalu menatap mata mereka dalam-dalam. Banyak yang langsung memalingkan dan menyembunyikan matanya seoalah-olah yang kulihat adalah sebuah aurat yang terlarang. Sayang sekali, padahal aku hanya ingin memperhatikan keindahan warna-warna mata mereka, bukan maksudku untuk mengintip rahasia hati mereka. Menurutku, hati dan otakku sangat sensitif dengan mataku. Ketiga organ tubuhku tersebut seperti tiga sahabat karib yang tidak pernah berhenti berinteraksi. Sementara mulutku seperti seorang anti-sosial yang terkucilkan.
Objek tontonan yang paling gemar dinikmati mataku, dianalisa otakku, dan dihayati hatiku adalah manusia. Aku suka memperhatikan detail-detail terkecil seperti lembaran kertas toilet yang tersangkut di sepatu om-om yang baru keluar dari Club-X, gelandangan peminta-minta bersepatu mahal, atau mata binal para lelaki di dalam mobil ketika melihat seorang wanita cantik sedang menyeberang jalan. Lalu, diam-diam kuberikan mereka nama-nama dan karakter. Dan kubuat sendiri kisah-kisah hidup mereka. Terciptalah sebuah hobi baru: menonton “wayang” orang.
Melbourne, bagiku menyimpan segudang karakter-karakter dengan kisah-kisah yang menarik. Misalnya, kisah si penjual buah yang ramah dan murah senyum namun berperawakan preman di Collins Street, kisah pak tua supir tram no. 16 yang suka bercanda —“Welcome to Melbourne’s most entertaining tram and next is my favourite stop: Bourke Street…” —, kisah si peniup saxophone misterius yang hanya keluar waktu tengah malam di jembatan Southbank, kisah si pengusaha muda berkemeja Armani yang baru keluar dari restoran Thai yang mahal di China Town, cerita si gelandangan mabuk yang wajahnya mirip Kurt Cobain —atau memang Kurt Cobain yang memang mirip gelandangan?— yang membuntutinya, kisah para kaum imigran ,kisah para kaum asli Aborigine yang malang ,kisah para perantau dan pelajar-pelajar asing yang jomblo dan sedang kesepian sepertiku. Kisah-kisah Melbournians.
Seperti biasanya kucari tempat duduk yang enak untuk menonton. Tempat duduk langgananku adalah bangku-bangku Bourke Street Mall atau di atas rumput yang empuk di depan State Library. Menurut perkiraan cuaca, Melbourne hari ini cerah. Hari yang indah untuk berjemur di depan State Library. Kupersiapkan Cappucino di gelas styrofoam dengan tutup plastik yang bermoncong. Baru di Melbroune aku belajar minum kopi Espresso dan dengan bangga sekarang aku sudah bisa membedakan antara Café Latte dan Cappucino, dan juga Flat White yang ternyata hanyalah nama beken untuk kopi-susu biasa. Aku tidak terlalu rewel dengan jenis kopi namun aku cukup anti dengan kopi Starbucks, karena Starbucks ada dimana-mana, seperti petikan lagu pop Kylie Minogue “…I can’t get, you outta my head..” yang sering terganjal di kepalaku dan tidak bisa kulupakan sepanjang hari. Kupersiapkan juga beberapa potong Sushi Cooked Tuna dan Calfornia Roll. “Kopi-Sushi” memang merupakan sebuah kombinasi minuman Itali dan makanan Jepang yang “kreatif” yang kurasa sangat mencerminkan situasiku: orang Asia yang sedang beradaptasi —atau malah gagal beradaptasi— dengan lingkungan dan budaya Barat.
Lalu acara pun di mulai.
********************
Friday, 08/07/2005, 13:00- 14:00pm. Drama – “Bizzare love-hate rectangle“ (M), adult themes, coarse language. Starring : Melissa, Nicholas, Greg, and Mick.
Mungkin memang dasar naluri priaku, mataku langsung terjerat ke arah seorang gadis manis keturunan Cina yang sedang menunggu tram di depan Melbourne Central Station. Sejak kecil aku memang suka yang manis-manis. Dari jauh ia terlihat serba merah jambu. Jaket panjangnya berwarna merah jambu. Begitu juga dalaman dan syal yang di lilitkan di lehernya. Udara autumn yang dingin membuat pipinya yang agak tembam me-merah. Sebuah novel tipis terkepit di antara lengan dan sisi tubuhnya dan di pundaknya tergantung tas kain hitam yang bertuliskan “BORDERS Bookshop”. Seorang kutu buku sepertiku!
Si pipi merah kuberi nama Melissa (20 tahun).
Melissa adalah sebuah contoh produk keluarga yang penyayang dan protektif. Ayahnya, seorang pekerja keras dan Ibunya, seorang ibu rumah tangga yang pandai memasak. Melissa gemar mencubiti pipi adiknya yang paling kecil yang sangat lengket dengannya. Ia sendiri adalah seorang yang sedikit kekanak-kanakan dan manja namun posisinya sebagai anak tertua telah membangkitkan naluri keibuan yang membuatnya lebih dewasa. Sifatnya yang bersahabat membuatnya disukai banyak orang. Namun Melissa belum pernah punya pacar karena di dalam bidang yang satu ini ia adalah seorang “pemula-yang-pemalu”. Ia pernah beratus-ratus kali naksir, bahkan seminggu bisa tiga kali, namun belum pernah sampai jatuh cinta. Melissa bertekad untuk hanya memacari calon suaminya. Untuk sementara ini, buku-buku dan film-film romantis bernuansa Eropa dengan sedikit bumbu eksotis Timur-Tengah dan Afrika menjadi pelarian asmaranya. Melissa dijamin 100% pasti menangis setiap kali menonton The English Patient, walaupun itu untuk ke empat kalinya. Melissa menyukai parfum dan bau-bau yang wangi. Dandanannya minimalis dan ramah lingkungan. Tubuhnya yang sedikit gempal menunjukkan bahwa Melissa terkadang, atau sering, memanjakan dirinya dengan Es Krim, Cheese Cake, dan Cokelat. Entah itu sebagai pelarian sewaktu stress atau sebagai hadiah untuk dirinya sendiri setelah bekerja keras menghadapi ujian. Bagi Melissa, seorang pria idaman harus mempunyai rambut yang sedikit acak-acakan seperti baru bangun tidur, lengkap dengan kumis dan janggut-kambing tipis yang baru tumbuh. Melissa menundukkan wajahnya yang terlihat menjadi semakin merah karena pada saat itu, seorang pria dengan ciri-ciri yang sama sedang berjalan menuju bangku tempatnya duduk menunggu tram.
Bule berpostur tinggi ramping dengan tatapan mata yang menyala-nyala itu kuberi nama Nicholas (27 tahun).
Dengan ayunan langkah kaki yang malas dan raut muka bosan Nicholas berjalan menuju bangku terdekat. Sambil menghela nafas panjang ia duduk di samping seorang gadis berjaket merah jambu. Nicholas adalah seorang pemimpi. Namun, ia adalah seorang pemimpi yang pro-aktif. Ia bertekad untuk dengan segala cara membuat mimpi-mimpinya menjadi kenyataan. Tekadnya yang bulat dan cara berpikirnya yang singular membuatnya tidak terlalu memperhatikan penampilan dan kesehatannya. Terkadang ia merokok dan minum tetapi tidak pernah berlebihan. Banyak orang mengiranya pendiam dan tertutup. Padahal sebaliknya, ia sangat terbuka dan jujur dengan orang-orang yang dipercayainya. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang dipercayainya. Nicholas selalu memilih jalan hidup yang penuh dengan tantangan. Ia bermaksud untuk berkelana menjelajah dunia sendiri. Ketika aku mengamati profil Nicholas aku jadi teringat dengan figur pemimpin revolusi Kuba, Ernesto ‘Che’ Guavara yang di masa mudanya berpetualang menelusuri Amerika Selatan diatas sepeda motornya. Menurutku Nicholas adalah seorang petualang yang terlalu lama tinggal di kota sehingga dirinya merasa jemu dengan rutinitas kehidupan kota besar yang kaku. Aku merasakan sedikit aura dingin yang protektif menyelubungi Nicholas. Kedua bibirnya tipis mengatup rapat, nyala matanya terlalu menusuk, dan kedua lengannya disilangkan di atas dadanya seperti sebuah perisai pelindung. Matanya menerawang lurus kedepan. Nicholas baru saja disakiti. Mungkin oleh seorang wanita? Nampaknya Nicholas adalah tipe orang yang tidak mudah untuk jatuh cinta. Tapi apabila dia jatuh, maka mungkin dia akan lebih dari sekedar jatuh, dia akan terjembab, terperosok, tenggelam, dan pokoknya kepeleset, kecebur dan kelelep ke dalam lautan asmara. Dan apabila dia patah hati, maka Nicholas akan menjadi mati rasa untuk waktu yang cukup lama.
Berbicara tentang wanita, hidung Nicholas mencium bau wangi. Bukan wangi parfum tante-tante yang mahal namun lebih kepada harum sabun-sabun alami produk Body Shop. Nicholas melirik ke arah gadis Jepang —Nicholas, seperti halnya mayoritas orang Australia, tidak bisa membedakan ciri-ciri fisik orang Asia secara umum— di sebelahnya. Ia tersenyum sendiri melihat pipi gadis itu yang merah. Gadis itu mengingatkan Nicholas kepada adik perempuannya yang sudah lama tak ia kunjungi. Dari hatinya mengalir luapan kasih sayang ke arah gadis manis yang tidak dikenalnya itu. Seolah-olah gadis Asia yang manis itu adalah adik kecilnya yang ia rindukan. Nicholas pindah dari rumah orang tuanya dan hidup sendiri sejak umur 18 tahun. Orang tuanya menginginkannya untuk meneruskan pendidikannya ke universitas. Namun Nicholas merasa tidak cocok dengan lingkungan akademik yang menurutnya penuh dengan birokrasi dan politik. Nicholas benci semua politisi dan segala sesuatu yang berbau politik. Aura dingin yang tidak bersahabat kembali menyelimuti wajahnya ketika seorang pria berdasi dan berjas hitam yang berjalan di dekatnya sedikit menyenggol kakinya yang terselonjor. Lelaki necis itu sedang sibuk mengutak-atik telefon genggam model PDA keluaran terbaru di tangannya sehingga ia tidak memperhatikan tatapan menusuk yang dilayangkan Nicholas ke arahnya.
Pria “sibuk” itu kuberi nama Greg (35 tahun).
Greg adalah realisasi dari impian-impian dan ambisi kita semua sewaktu kita berumur pertengahan duapuluhan, kecuali mungkin orang-orang tertentu seperti Nicholas. Greg adalah kita, ketika kita mulai mampu mencari uang sendiri dan tidak terlalu membutuhkan lagi tunjangan dari orang tua. Ketika kita mulai berpikir bahwa uang akan memudahkan segala urusan dan karena uang itu hasil keringat kita sendiri, orang tua kita tidak bisa lagi mengatur hidup kita. Dengan uang, semua keinginan dan cita-cita kita dapat dipenuhi. Perbedaan antara Greg dan kita semua adalah Greg mempunyai ambisi yang sepuluh kali lipat lebih besar. Greg juga seorang terpelajar yang ber IQ di atas rata-rata. Bila ditanya, Greg akan cukup bijak untuk mengakui kalau uang itu bukan segala-galanya dan sifat materialistik itu tidak berkeprimanusiaan. Jika dibayar, Greg mampu menulis artikel 5000 kata bertajuk Filosofi Tentang Etika dan Moral Manusia yang Adil dan Beradab di Zaman Moderen Ini. Demi publisitas, Greg juga rela menyumbangkan ribuan dolar hartanya ke panti-panti asuhan dan organisasi kemanusiaan. Ia tidak merasa bahwa dirinya itu materialisik atau bahkan hipokrit karena Greg merasa tidak pernah salah. Ia malah merasa dirinya, sebagai bagian dari kalangan elit terpelajar telah dibebani Tuhan dengan tanggung jawab moral yang besar untuk senantiasa menilai orang lain, mencari-cari kesalahan dan mendidik masyarakat supaya lebih beradab di matanya.
Intermezzo: Bukannya aku, sebagai penulis skrip dan produser acara ini ingin menjelek-jelekan Greg atau orang-orang yang berpenampilan seperti Greg. Ini semua demi menambah kesan dramatis bagi penonton. Setiap cerita pasti ada tokoh jahatnya. Misalkan ternyata Greg itu adalah seorang dermawan kaya yang rajin ke mesjid mungkin pemirsa akan cepat bosan dan tidak begitu tertarik lagi dengan kisahnya.
Ciri-ciri fisik dan penampilan Greg sangat rapih dan teratur. Sepatu kulitnya yang mengkilap bersih dan garis-garis setrikaan celananya yang sempurna menunjukkan bahwa ia adalah seorang perfeksionis, yang tentunya juga pandai menyetrika. Dari dandananya aku malah sedikit tegoda untuk memanggilnya “Metroseksual”. Namun kurasa Greg mempunyai sisi kejantanan yang agresif, terlihat dari caranya berdiri tegap dan auranya yang walaupun kurang berwibawa, memancarkan kekuasaan yang angkuh. Kepalanya yang berkilau dicukur habis demi menyembunyikan rambutnya yang memang sudah menipis dan beruban. Di telinganya tergantung aksesoris telefon genggam Hands-free yang dibiarkannya tergantung walaupun jelas sedang tidak ada telefon yang masuk. Lebih baik berjaga-jaga, siapa tahu John Howard mau telefon. Greg tidak biasa naik kendaraan umum. Ia terpaksa naik tram karena parkir-parkir di daerah kota selalu penuh dan ia harus rela memarkirkan mobilnya sedikit jauh di dekat Melbourne University. Ia berdiri di ujung terotoar seolah-olah perebutan posisi terdepan untuk naik ke atas tram adalah sebuah cabang Olimpiade. Dan Greg ingin selalu jadi nomor satu. Menurutnya posisi kedua adalah sama seperti pecundang nomor satu. Greg amat benci pecundang-pecundang. Terutama sampah-sampah masyarakat seperti para pengangguran yang hanya hidup dari tunjangan pemerintah dan juga kaum pengungsi dari negara-negara barbar yang lari ke Australia. Filisofinya adalah bahwa setiap orang yang bernasib buruk adalah akibat perbuatannya sendiri.
‘How ya goin’ mate!, can you spare me $2….?’
Seorang lelaki kurus berpakaian lusuh datang menghampiri Greg. Sebenarnya sebelum melihatnya Greg sudah terlebih dahulu mencium hawanya yang kurang sedap. Wajah lelaki berambut pirang gondrong mullet yang berantakan itu sangat mirip dengan wajah Kurt Cobain.
Pada mulanya nama-nama tipikal Bloke-next-noor berakhiran “-o” seperti: John-o, Steve-o, atau Dave-o mencuat dikepalaku.
Namun pada akhirnya aku memutuskan untuk menamainya Mick (35 tahun).
Mick adalah epitomi dari segala sesuatu yang di benci Greg. Dengan lirikan jijik Greg memilih untuk tidak menghiraukannya dan mengambil 2 langkah ke samping untuk menjauh dan lalu berdiri membelakanginya. Mick memelototi punggung Greg yang lebih memilih untuk menatap layar PDA nya daripada memandang wajah selebritis rocknya.
‘F***ing Yuppie bastards..!’
Mick mengumpat cukup kuat bagi Greg untuk mendengarnya kalau saja Greg sedang tidak pura-pura jadi tuli. Mick berdiam diri sejenak menatap Greg sambil membayangkan kepuasan batin yang akan dapatkannya apabila dia dapat menghajar kepala botak Greg berkali-kali dengan sebuah tongkat Cricket. Namun Mick sedang tidak ingin mencari masalah. Ia lalu berjalan menghampiri pria berambut cokelat yang sedang duduk di bangku jalan yang kemudian memberinya $2.
Mick menghadiahkan lelaki itu sebuah senyuman dari mulutnya yang dihiasi gigi-gigi berantakan yang kuning-kuning. Mick kemudian melirik ke arah gadis manis yang duduk di dekatnya. Gadis itu langsung kelihatan takut dengan Mick. Mick tersenyum nakal sambil memperhatikannya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki sambil menghayati detail-detail bentuk liuk-liuk tubuhnya. Sebenarnya Mick tidak terlalu suka orang Asia, namun wanita Asia yang cantik seperti Melissa adalah sebuah pengecualian. Ia selalu geram dengan para imigran, imigran dari Asia secara khususnya, karena mereka terlalu rela berkerja siang dan malam dengan gaji minimum. Mick sekarang sedang menganggur. Dia pernah bekerja menjadi buruh kasar di sebuah perusahaan konstruksi. Namun ia dipecat karena selalu datang terlambat dan terlalu sering izin ‘sakit’. Walaupun hampir tidak ada imigran Asia yang menjadi buruh konstruksi, Mick tetap menyalahkan mereka. Sebenarnya, Mick membutuhkan domba hitam —berhubung kambing di sini cukup langka, istilah “kambing hitam” saya sesuaikan dengan keadaan— sebagai objek pelampiasan rasa ketidak-puasannya. Hal-hal yang disukainya adalah Bir, footy, majalah porno dan mengeluh tentang pemerintah. Padahal Mick dahulu hampir tidak pernah mengeluh. Mick aslinya adalah seorang yang periang dan disukai teman-temannya.
Mengikut trend perceraian yang marak di Australia, kedua orang tua Mick bercerai ketika ia remaja. Ia merasa orang tuanya tidak terlalu memperdulikannya dan lebih memilih untuk meluangkan waktunya bersama teman-temannya merokok marijuana atau berpetualang menyusuri pub-pub di City. Masa-masa sekolah adalah masa terindah baginya. Namun segala sesuatunya berangsur memburuk setelah masa-masa keemasan itu. Sementara Mick masih tertinggal dan hidup di masa lalu. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk berpikir tentang hari esok. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan diperbuatnya lima menit dari sekarang. Tidak pernah ada orang yang perduli dengannya dan akhirnya teman-temannya meninggalkannya satu persatu. Teman-temannya hanya menganggapnya sebagai beban materi. Hanya sudut-sudut kota dan gang-gang Melbourne-lah yang setia mendampinginya. Mick adalah Melbourne ketika malam tiba. Ketika semua orang tidur terlelap dan seluruh perhatian dan kasih sayang kota ini adalah miliknya seorang.
Melissa merasa semakin risih dengan gelandangan yang baru saja tiba di dekatnya. Padahal ia sedang asyik-asyiknya bermimpi membayangkan dirinya menimang-nimang bayi lucu hasil perkawinannya dengan lelaki tampan yang sedang duduk di sebelahnya. Melissa bahkan berani bersumpah kalau tadi lelaki tersebut melirik dan tersenyum kearahnya. Hatinya berhenti berdegup sejenak, Oh tidak! Aku naksir lagi. Padahal baru kemarin aku naksir tutorku yang baru di Uni. Namun menurut Melissa tidak mungkin lelaki cool seperti itu tertarik dengan kutu buku yang gendut sepertinya. Jadi tidak ada salahnya jika ia membiarkan dirinya terlelap sejenak di dalam mimpi indah yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Namun gelandangan tersebut merusak segalanya. Kini Melissa hanya ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Jauh dari tatapan mata gelandangan itu yang menelanjanginya. Padahal Melissa hanya ingin duduk berdua dengan Nicholas—
—Yang merasa kasihan dengan gelandangan yang baru saja menghampirinya. Mungkin jika suatu saat Nicholas berhenti berusaha dan menyerah menggapai cita-citanya ia akan menjadi seperti gelandangan tersebut. Ia merasa kesal melihat cara lelaki angkuh ber-PDA yang tadi menyenggol kakinya memperlakukan gelandangan itu. Menurutnya, gelandangan dan lelaki businessman itu sama-sama butuh pertolongan. Seandainya mereka berdua sedang mengidap penyakit, maka si gelandangan akan menderita penyakit ‘kelas bawah’ seperti cacingan atau muntaber, sementara si businessman, penyakit-penyakit ‘elit’ seperti Stroke atau kanker otak. Intinya, mereka berdua sedang sakit. Si gelandangan harus di imunisasi secara teratur dan si businessman harus dioperasi. Menurutnya, penyakit yang lebih susah di obati adalah penyakit Greg—
—Yang sudah lupa mengenai si gelandangan. Tapi Greg memang tidak terlalu sensitif dengan orang-orang di sekelilingnya. Kecuali kalau ia sedang menghadiri pesta makan malam yang dihadiri orang-orang penting sepertinya. Otaknya sedang sibuk menganalisa naik-turunnya harga saham yang beritanya baru saja masuk ke telepon genggam PDAnya. Ia hanya ingin cepat-cepat pulang dan mandi. Ia selalu merasa sedikit kotor setelah duduk di kendaraan umum, apalagi ia telah berdiri cukup lama di dekat Mick—
—Yang kini mencoba mencari perhatian Melissa dengan rayuan-rayuan nakal. Melihat Melissa yang seperti Greg, tidak memperdulikannya dan bersikap seolah-olah seperti Mick itu objek transparan. Mick menjadi kesal, dan rayuan-rayuannya pun menjadi lebih kasar dan kata-katanya semakin kotor. Melissa bergeser menjauh dan Mick menggunakan kesempatan itu untuk duduk di tempat yang sekarang kosong diantara Nicholas dan Melissa. Nicholas merasa sedikit was-was melihat tingkah Mick. Tiba-tiba Mick menaruh telapak tangannya di atas sebelah paha Melissa. Melissa berteriak, Nicholas berdiri menahan tangan Mick, sementara Greg pura-pura lugu dan semakin menjauh seperti ingin berlari, menyambut dan memeluk cium tram yang sedang mendekat.
Lalu pandanganku tertutup tulisan: “Melbournians.. Get Lost!!!”, sebuah poster iklan yang mempromosikan turisme di Queensland terpampang di sisi tram yang baru tiba. Gambar hamparan hutan dan pantai-pantai indah Queensland menghiasi poster itu. Maksud tulisan iseng di iklan tersebut tentunya adalah agar para Melbournians tertarik untuk berkunjung dan ‘tersesat’ di dalam keindahan alam Queensland.
Setelah tram tersebut lewat, Melissa dan Greg sudah tidak ada lagi. Yang tinggal hanya Nicholas dan Mick yang berteriak, “Get the f**k away from me!” sambil menarik tangannya dari genggaman Nicholas. Mick lalu berjalan sambil menggerutu menuju stasiun bawah tanah Melbourne Central tanpa lagi menoleh ke arah Nicholas. Peristiwa ini cukup menarik perhatian beberapa pejalan kaki yang berhenti sejenak untuk mencari-cari tahu apa yang terjadi. Namun beberapa menit kemudian, situasi perhentian tram itu kembali normal, seolah-olah babak seru yang baru saja lepas tidak pernah terjadi. Tidak lama kemudian Nicholas pun beranjak pergi ke arah Elizabeth Street dan hilang ditelan kerumunan para pejalan kaki.
********************
Aku merasa cukup terhibur dengan tontonanku kali ini. Walaupun aku merasa sedikit bersalah karena kejadian nyata yang terjadi di depan mataku tidak seharusnya menjadi sekedar bahan hiburan seorang pemuda yang kurang kerjaan sepertiku. Mataku kembali keluyuran mencari mangsa untuk menjadi bahan tontonanku selanjutnya. Tiba-tiba mataku bertemu sepasang mata yang seperti sedang mengawasiku. Mataku terpaku.
Ia duduk di atas salah satu bangku-bangku taman yang menghiasi halaman State Library, kira-kira 4 meter di sebelah kananku. Sudah berapa lama dia duduk memperhatikanku? Perempuan itu menutup kotak makan siangnya dan memasukannya ke dalam tas. Mulutnya masih menguyah kecil-kecil. Ia lalu berdiri dan memukul-mukul bagian depan roknya, sisa-sisa rotipun bertaburan dan sekumpulan burung dara yang sedang berpatroli mencari sisa-sisa makananpun mulai berdatangan. Ia kembali menatapku sambil berjalan santai ke arahku.
Matanya cokelat seperti mataku, namun lebih terang tetapi teduh. Baru aku sadari, kalau mata cokelat itu juga indah. Entah mengapa, semakin dekat sepasang mata itu berjalan, semakin galau hatiku dibuatnya. Aku merasa seperti tertangkap basah, seolah-olah ia mengetahui rahasia-rahasia kecilku, segala kisah-kisah hidup orang lain yang aku buat-buat seenaknya. Mata itu terasa semakin menusuk dan aku tidak tahan lagi menatapnya lama-lama. Untuk pertama kalinya, aku kalah adu mata.
Ketika ia berdiri tepat di depanku, aku menoleh ke atas, ke arah wajahnya yang lonjong. Kulitnya putih bersih, dagunya lancip, hidungnyanya mungil dan mancung. Jelas dirinya adalah seorang blasteran Bule-Asia. Ia tersenyum kepadaku dan senyuman itu menular. Aku jadi senyum-senyum malu juga seperti pengantin baru. Ingin rasanya aku mereka-reka nama perempuan ini, latar belakangnya, sifat-sifatnya, dan isi hatinya. Namun mataku malu menatap lama-lama, hatiku bingung, otakku kosong karena tidak mendapat input yang berguna dari kedua partnernya. Hanya suara detak jantungku yang meliputi keenam inderaku.
‘Y-yes? Can I Help you?’..
‘That’s a weird combination, Sushi with Capuccino’.
(diam) .
(aku tertawa gugup).
Lalu karena bingung mau berbuat apa, aku pura-pura minum dari gelas kopiku yang sudah kosong dengan suara Srrruput srrrput yang meyakinkan.
Perempuan itu lalu duduk di atas rumput di sampingku. Matanya kini tertuju ke arah pemandangan hiruk-pikuk kota Melbourne di hadapan kami. Lalu ia menunjuk ke arah seorang kakek-kakek yang baru saja keluar dari stasiun kereta bawah tanah. Ia lalu berhenti dan berdiri di depan kios koran di ujung jalan. Kakek itu mengeluarkan sebuah Klarinet dari tas besarnya. Lalu ia mulai bermain. Musik yang dimainkannya sejenis Jazz tahun 40an. Musik seperti itu di hari yang cerah seperti ini membuat kota Melbourne hidup seperti sebuah festival yang meriah.
‘His name is Cliff…’
‘….erm...do you know him..?’
‘No. But i'd name him Cliff anyway…..’
Untuk beberapa saat aku bingung dengan jawabannya. Lalu akupun tersenyum mengerti. Kutatap lagi matanya yang indah itu, kali ini dengan penuh percaya diri.
‘Yeah .. you are right. He is Cliff.. ‘
Sepertinya, acara kesukaanku kini menjadi lebih menarik. Lagipula, nonton bareng memang lebih seru ketimbang nonton sendiri.
************* TamaT ************